Pertemuan
Senin, 24 November 2014 di ruang 305 FIP UNJ
·
Konsep capital budgeting
Penganggaran investasi (capital budgeting) adalah keseluruhan
aktivitas yang berupa perencanaan penggunaan dana dengan tujuan untuk
memperoleh manfaat, atau suatu aktivitas investasi di mana dikeluarkan dana
untuk membentuk aktiva produktif dengan harapan untuk memperoleh manfaat di
waktu yang akan datang. Aktivitas proyek investasi selalu ditujukan untuk
mencapai suatu tujuan selama jangka waktu tertentu yang panjang. Setiap usul investasi
harus mempunyai periode tertentu, yakni kapan proyek investasi itu dimulai dan
kapan proyek investasi itu berakhir.
Usul-usul investasi tersebut dapat berupa pembelian aktiva
tetap penting seperti bangunan, mesin - mesin dan peralatan atau penanaman dana
pada perusahaan lain dengan jalan membeli saham-sahamnya atau seperangkat
aktiva yang dipat digunakan untuk kelangsungan usaha perusahaan itu. Investasi
dalam aktiva tetap sering meliputi pemilihan yang komplek antara berbagai
alternatif aktiva tetap, saat kapan suatu proyek akan dimulai, dan bagaimana
metode pembelanjaannya. Masalah pemilihan usul-usul investasi beserta metode
pembelanjaannya merupakan dua dari kebanyakan keputusan perusahaan yang sangat
penting dan sangat menentukan bagi kelangsungan usaha perusahaan itu.
Keputusan penganggaran investasi merupakan suatu proses yang
mempunyai dua sisi. Sisi pertama, seorang financial manager harus mengevaluasi
suatu proyek investai dengan memperhitungkan "hasil yang diharapkan"
(expected return) dari proyek tersebut. Pada umumnya evaluasi tersebut dimulai
dengan pengeluaran kas pada awal dilakukannya proyek dan arus kas selama umur
proyek tersebut. Perhitungan "hasil yang diharapkan" tersebut
misalnya dapat dilakukan dengan metode "internal rate of return" atau
"net present value." Sisi kedua adalah menentukan "hasil
yang dikehendaki" (required return) dari proyek tersebut.
Kita dapat memperhitungkan "hasil yang dikehendaki,"
misalnya 16%, tetapi pertanyaan yang timbul adalah apakah angka tersebut
merupakan jumlah yang cukup sehingga proyek tersebut dapat diterima? Untuk menentukan
apakah "hasil yang dikehendaki" tersebut cukup memadai, kita harus
mengevaluasi derajat resiko dari proyek itu dan kemudian harus
menghitung "hasil yang dikehendaki" untuk suatu derajat resiko
tertentu.
Dua metode dapat digunakan. Apabila proyek investasi
baru tersebut mempunyai derajat resiko yang kira-kira sama dengan aktivitas
usaha yang ada sekarang, kita dapat mempergunakan "biaya penggunaan modal
rata-rata" (average cost of capital). Sebaliknya apabila derajat resiko
proyek itu berbeda dengan derajat resiko dari usaha yang ada sekarang, kita
dapat mempergunakan "model penilaian investasi dalam aktiva" (capital
asset pricing model).
Djarwanto.1984.Capital Budgeting.Yogyakarta.BPFE
Yogyakarta.
·
Payback period
Ciri dari metode penilaian ini adalah bahwa metode ini
menggunakan konsep cash flow sebagai dasar perhitungannya dan tidak
mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang.
Dengan
menggunakan metode pack back period sebagai metode penilaian berarti bahwa
proyek yang paling cepat mengembalikan total investasi awal atau investasi
permulaan (initial investment adalah dianggap proyek yang paling baik.
Untuk menetapkan pay back period yaitu lamanya waktu atau
periode yang diperlukan untuk mengembalikan investasi awal dapat digunakan
rumus sebagai berikut :
Payback
period (PBP) = Initial investment________
Annual
money Cash inflow
Disamping
beberapa kelemahan metode payback period memiliki beberapa kebaikan diantaranya
adalah sebagai berikut :
a.
Metodenya sederhana
b.
Alat penjaga resiko. Jika proyek dapat menerima kembali seluruh dana yang
ditanam padanya dengan singkat maka itu berarti bahwa resiko mengalami kerugian
adalah rendah karena kemungkinan bagi perusahaan lain untuk mendirikan proyek
yang sama adalah kecil.
c.
Alat penjaga likuiditas
Kelemahan
dari metode ini yang terpenting adalah sebagai berikut :
a.
Metodenya tidak mempertimbangkan nilai uang yang dipengaruhi oleh waktu
b.
Metode ini mengabaikan kenyataan bahwa proyek kemungkinan mempunyai arus cash
in flow yang berlainan setelah masa payback period berakhir
·
Net present value
Net present value (NPV) metode ini merupakan nilai dari
proyek yang bersangkutan yang diperoleh berdasarkan selisih antara cash flow
yang dihasilkan terhadap investasi yang dikeluarkan. NPV > 0 (nol) →
usaha/proyek layak (feasible) untuk dilaksanakan. NPV < 0 (nol) →
usaha/proyek tidak layak (feasible) untuk dilaksanakan. NPV = 0 (nol) →
usaha/proyek berada dalam keadaan BEP dimana TR=TC dalam bentuk present value.
Untuk menghitung NPV diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya
operasi, dan pemeliharaan serta perkiraan benefit dari proyek yang
direncanakan.
·
Internal rate of return (IRR)
Di samping NPV dan BCR method banyak juga pimpinan perusahaan
yang menggunakan internal rate of return (IRR) sebagai alat untuk mengukur atau
mengevaluasi investasi – investasi yang dilakukan.
IRR method atau biasa juga dinamakan Trial and Error Method
menunjukan tingkat pendapatan yang sebenarnya dari sebuah proyek. Metode IRR
tidak mengurangkan gross present value (GPV) dari cash flow dari initial
investment atau biasa juga dinamakan initial capital outlay melainkan
mencarinya dengan trial and error.
Dengan system trial and error berarti dicoba berbagai
tingkat discounting factor (DF) akan menyamakan gross present value (GPV)
dengan initial investment atau initial capital outlay. Discounting factors
yaitu yang akan menyamakan GPV dengan initial investment adalah merupakan IRR
dari proyek bersangkutan.
·
Penerapan capital budgeting dalam keuangan pendidikan
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah ini merupakan
plafon pendanaan yang dibutuhkan dan harus disediakan serta direncanakan asal
dana tersebut didapatkan. RAPBS inilah yang menjadi dasar pengelolaan managemen
sekolah. Segala hal yang dilakukan oleh sekolah harus tercantumdi dalam RAPBS
tersebut,jika tidak, maka kegiatan tersebut haruslah diprogramkan di tahun depannya.
Untuk itulah, maka setiap sekolah menyusun RAPBS sebagai acuan kegiatan yang
terkait dengan pendanaan. Sebenarnya, dengan adanya RAPBS ini, sekolah dapat
mengeksplorasi kemampuan dirinya dan menyeimbangkan dengan alokasi dana yang
ada.
Kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat direncanakan,
diupayakan pengadaannya, dibukukan secara transparan, dan digunakan untuk
membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Tujuan
manajemen keuangan adalah:
1.Meningkatkan
efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah
2.Meningkatkan
akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah
3.Meminimalkan
penyalahgunaan anggaran sekolah
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibutuhkan kreativitas
kepala sekolah dalam menggali sumber -sumber dana, menempatkan bendaharawan
yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggung- jawaban keuangan serta memanfaatkannya
secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku (Mulyasa, 2003:50)
http://eprints.stainsalatiga.ac.id/142/1/Tulusmono%20-%20Manajemen%20Kesiswaan%20dan%20Manajemen%20Keuangan.pdf diakses tanggal 13 September 2014 pukul 19.34